BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Inti dari
proses pendidikan adalah belajar dan pembelajaran. Menyadari hal itu, untuk
meningkatkan kualitas pendidikan nasional berbagai upaya telah dilakukan oleh
pemerintah dengan tujuan meningkatkan proses belajar dan pembelajaran.
Hasilnya, berbagai pendekatan dan model belajar dan pembelajaran dalam tiga
dekade terakhir telah diadopsi ke dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.
Terkait
dengan terselenggaranya proses belajar dan pembelajaran yang kondusif bagi
pencapaian tujuan secara maksimal, ada dua hal yang perlu memperoleh perhatian.
Pertama, banyak guru yang telah mengikuti pendidikan guru sebelum memasuki
profesinya, akan tetapi sebagian dari mereka tidak memiliki wawasan dan
pengalaman yang siap pakai dalam menyelenggarakan belajar dan pembelajaran.
Ilmu kependidikan yang dipelajari lebih bernuansa kognitif teoritis sehingga
ketika ia terjun menjadi guru hanya menduplikasi gaya mengajarnya tanpa merasa
bersalah.
Kedua,
banyak yang menjadi guru walau bukan menjadi pilihan utamanya dan sama sekali
tidak memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang kependidikan. Sekalipun
diantara mereka ada yang mampu mengajar dengan baik karena didukung oleh bakat
dan keseriusan melaksanakan tugasnya, tetapi masih diperlukan bekal ilmu
kependidikan untuk memaksimalkan kompetensi mengajarnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Biografi Adward Lee Thorndike
2.
Apa teori Teori Torndike?
3.
Apahukum Teori Thorndike?
4.
Apa saja ciri-ciri Teori Thorndike?
5.
Apasaja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan
Teori Thorndike?
C. Tujuan
1.
Menjelaskan biografi Adward Lee Thorndike
2.
Menjelaskan tentang Teori
Thorndike.
3.
Menjelaskan hukum Teori Thorndike.
4.
Mengetahui ciri-ciri Teori
Thorndike.
5.
Menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan Teori
Thorndike.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1.
BIOGRAFI
SINGKAT ADWARD LEE THORNDIKE
Adward lee thorndike lahir tanggal
31 Agustus 1874 di Williamsburg, dan Meninggal tanggal 10 Agustus 1949 di
Montrose, New York. Ia adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir
seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Masa kanak-kanak dan
Pendidikannya adalah sebagai anak seorang pendeta Metodis di Lowell,
Massachusetts. Thorndike lulus dari The Roxbury Sekolah Latin (1891), di West
Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895), Harvard University (MA
1897), dan Columbia University (PhD. 1898). Beberapa buku yang pernah ditulis,
antara lain :
·
Animal
Intelligence : An Experimental Study of Asociation Process in Animal – 1898 (saat
Thorndike berusia 24 tahun) Buku ini berisi penelitian Thorndike terhadap
tingkah laku beberapa jenis hewan, yang mencerminkan prinsip dasar dari proses
belajar yang ia anut yaitu asosiasi.
·
Educational
Psychology (1903) Buku ini merupakan penerapan prinsip transfer of training di
bidang pendidikan. Berkat buku ini dan prestasinya yang lain, Thorndike
diangkat menjadi guru besar di “Teacher’s College of Columbia”.
·
Animal
Intelligence – 1911 Sebenarnya buku ini merupakan disertasi doktornya (1898)
yang dikembangkan bersama dengan penelitian-penelitiannya yang lain. Thorndike
dianggap sebagai pelopor di beberapa bidang, antara lain:
Ø Learning theory
Ø Educational practice
Ø Verbal behavior
Ø Comparative psychology
Ø Intelligence testing
Ø Nature-nurture problem
Ø Transfer of learning
Ø Application of quantitatives measures to sociopsychological
problems
1.2.
TEORI
THORNDIKE
Menutut
Thorndike, dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan panca indra (sense
impression) dengan implus untuk bertindak (implus to action).
Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar
seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat
indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika
belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.Meskipun
aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat
menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat
diamati. Asosiasi yang demikian ini dinamakan “connection”. Dengan kata lain,
belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, antara aksi
dan reaksi. Antara stimulus dan respons ini akan terjadi suatu hubungan yang
erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara
stimulus dan respons itu akan menjadi terbiasa, otomatis.
1.3.
HUKUM
TEORI THORNDIKE
Mengenai hubungan stimulus dan respons tersebut, Thorndike
mengemukakan beberapa prinsip atau hokum diantaranya :
1.
Hukum Kesiapan (Law of effect)
Hubungan
stimulus dan respons akan bertambah erat, kalau disertai dengan perasaan senang
atau puas, dan sebaliknya kurang erat atau bahkan bisa lenyap kalau disertai
perasaan tidak senang. Karena itu adanya usaha membesarkan hati, memuji dan kegiatan
reinforcement sangat diperlukan dalam kegiatan belajar. Hal ini akan lebih
baik, sedang hal-hal yang bersifat menghukum akan kurang mendukung.Sebagai
aplikasinya, ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses belajar dan
pembelajaran yaitu:
a. Seseorang
diberi stimulan ketikabelum siap untuk menerimanya. Hasilnya orang tersebut
tidak akan memberikan kepuasan kepada dirinya sendiri.
b. Seseorang
diberi stimulan ketika telah benar-benar siap untuk menerimanya. Hasilnya orang
tersebut akan memberikan respon positif yang diharapakan dan memeberikan
kepuasaan kepada dirinya sendiri.
c. Seseorang
tidak diberi stimulan ketika telah bersiap untuk menerimanya. Hasilnya orang
tersebut akan merasa kecewa dalam dirinya.
d. Seseorang
tidak diberi stimulan ketika tidak siap untuk menerimanya. Hasilnya orang
tersebut justru akan memberikan respon positif yang tidak diharapkan dan
memberikan kepuasaan kepada dirinya sendiri.
2.
Hukum
akibat ( The Law of Effect)
Hukum ini menyatakan bahwa hubungan
antara stimulus dan respon yang diharapkan akan bertambah kuat dan akan selalu
muncul jika memberikan akibat yang menyenangkan kepada diri seseorang.
Sebaliknya, hubungan tersebut akan melemah dan jarang muncul jika memberikan
akibat yang tidak menyenangkan kepada diri orang tersebut.
Hukum ini dapat dijadikan alasan
penerapan prinsip hadiah atau reward dan sanksi atau hukuman atau punishment
atau sering juga disebut sebagai pendekatan cambuk dan wortel atau stick and carrot dan dalam pembelajaran.
Siswa yang telah belajar dengan keras kemudian memperoleh nilai yang baik dan
mendapat pujian (reward atau carrot) yang pantas dari guru atau orang
tuanya akan mendorong siswa tersebut meneruskan kebiasaanya belajar dengan
giat. Sebaliknya, siswa yang kurang rajin belajar dan memperoleh nilai yang
rendah serta memperoleh peringatan (punishment
atau stick) dari gurunya akan
meninggalkan kebiasaan jelek dan meningkatkan kerajinanya dalam belajar.
3. Law of exercise atau law of use and disuse
Hubungan
stimulus dan respons akan bertambah erat kalau sering dipakai dan akan
berkurang bahkan lenyap jika jarang atau tidak pernah digunakan. Oleh karena
itu perlu banyak latihan, ulangan dan pembiasaan.
4.
Law
of assimilation atau law analogi
Seoarang
dapat menyesuaikan diri atau member respons yang sesuai dengan situasi
sebelumnya.
1.4.
Ciri-ciri Teori
Belajar Throndike
Adapun beberapa ciri – ciri belajat menurut Thorndike, antara lain :
1.
Ada motif pendorong aktivitas.
2.
Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
3.
Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
4.
Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari
penelitiannya itu.
1.5.
HAL-HAL YANG PERLU
DIPERHATIKAN DALAM PENERAPAN TEORI THORNDIKE
Tidak
semua pakar pembelajaran yang setuju dengan pendekatan yang menggunakan hukum
akibat sebagaimana dicontohkan sebelumnya.Mereka justru berargument bahwa
hadiah dan hukuman tidak selalu berakibat positif tetapi bisa sebaliknya
berakibat negatif.Tidak jarang siswa yang memperoleh nilai baik dan mendapat
pujian yang berlebihan membuat terlena dan menganggap enteng mata pelajaran
yang dipelajarinya.Akibatnya, terjadi penurunan kegiatan belajar yang kemudian
menurunkan prestasi belajarnya. Dalam kasus yang berbeda, siswa yang malas dan
memperoleh nilai yang rendah serta mendapat hukuman dari guru justru akan lebih
malas dan gagal serta mengalami frustasi. Bagaimanapun, terlepas dari positif
dan negatifnya akibat dari sebuah perlakuan, keduanya membuktikan adanya efek
atau akibat dari perlakuan. Berpegang kepada terori ini guru harus menyadari bahwa:
a. Perilaku
belajar siswa akan berdampak kepada hasil belajarnya.
b. Tindakan
yang dilakukan guru terhadap siswa akan memberikan dampak kepada perilaku dan
hasil belajar siswa tersebut.
c. Terjadinya
dampak negatif atau positif dalam perilaku dan hasil belajar siswa yang
disebabkan oleh perlakuan guru dalam pembelajaran tidak selalu sama antara
siswa yang satu dengan siswa yang lainnya tetapi karena bergantung pada banyak
aspek lain baik psikologis, fisiologis, dan lingkungan kehidupan siswa.
d. Guru
harus berhati-hati dalam menerapkan pendekatan “reward and punishment” dalam menyelenggarakan pembelajaran bagi
siswanya karena kesalahan dalam penerapannya bisa berakibat negatif yang fatal
dan berjangka panjang terhadap perilaku belajar siswa.
Penerapan teori Thorndike dalam kegiatan belajar sebenarnya ada
beberapa kelemahan, diantaranya:
1.
Belajar
menurut teori inibersifat mekanisme. Apabila ada stimulus, dengan sendirinya
atau secara mekanis timbul respons. Latihan-latihan ujian, bahkan ulangan dan
ujian para subjek didik banyang yg berdasarkan hal-hal semacam ini.
2.
Pelajaran
bersifat teacher centered. Dalam hal ini guru aktif memilih dan menentukan apa
yang harus diketahui subjek didik/siswa (guru member stimulus).
3.
Subjek
didik/siswa menjadi pasif, kurang terdorong untuk berpikir dan juga tidak ikut
menentukan bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Siswa belajar menunggu
datangnya stimulus dan guru.
4.
Teori
ini lebih mengutamakan materi, yakni hanya memupuk pengetahuan yang diterima
dari guru dan cenderung menjadi intelektualistis.
PENUTUP
A. SIMPULAN
Perubahan-perubahan baru dalam kehidupan
bermasyarakat di era global dewasa ini yang ditandai oleh maraknya berbagai
problem sosial adalah bersumber dari lemahnya sumber daya manusia dan modal
sosial yang ada di masyarakat. Persolan-persoalan tersebut tentunya bukanlah
semata-mata tanggung jawab dunia pendidikan, namun pendidikanlah yang paling
banyak kontribusi munculnya permasalahan tersebut. Dalam upaya mengatasi
masalah-masalah tersebut, bidang pendidikan akan dapat menguatkan kembali
sumber-sumber daya manusia/sumber daya sosial dalam rangka menghadapi
perubahan-perubahan tersebut.
Pendidikan dengan prespektif global untuk
menyiapkan peserta didik agar mampu berperan dalam konstalasi masyarakat global
di samping berkarakter nasional sangat diperlukan. Untuk mengembangkan
kesadaran individu akan nilai-nilai kesatuan dalam kemajemukan budaya, serta
menjunjung tinggi nilai-nilai moral, kemanusiaaan, dan religi, disamping
mengembangkan kreativitas, produktivitas, berfikir kritis, bertanggung jawab,
kemandirian serta kemampuan berkolaborasi.
B. Saran
Diharapkan dalam upaya menerapkan teori
Thorndike tersebut dalam praktek-praktek pembelajaran sistem pendidikan dapat
memberikan peluang lebih besar kepada guru untuk berimajinasi dan mengembangkan
kreativitasnya serta dibebaskan dari berbagai hal teknis dan formalisme yang
selama ini membelenggunya. Sehingga guru dapa menjadikan pembelajaran itu tidak
lagi sentralistik dan monologis melainkan ke arah desentralisasi, otonomi,
demokrasi, serta dialogis sehingga kita dapat dapat menguatkan kembali
sumber-sumber daya manusia/sumber daya sosial dalam rangka menghadapi
perubahan-perubahan tersebut.
No comments:
Post a Comment